SOLO, SEKATA — Sebuah langkah kecil dalam dunia literasi anak berhasil ditorehkan KB Sinar Kasih Kota Solo. Melalui pendampingan komunitas SeKata, lembaga pendidikan anak usia dini tersebut meluncurkan buku antologi dongeng yang ditulis langsung oleh para guru dan orangtua murid.

Peluncuran buku perdana itu menjadi semakin istimewa karena dilakukan langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, S.E., S.S., M.B.A., dalam sebuah acara di GKJ Nusukan, Solo, Jumat (13/2/2026) pagi.
Founder SeKata, Didik Kartika, menyebut program pelatihan menulis dongeng bagi orangtua murid tersebut merupakan yang pertama kali digelar di Kota Solo, bahkan kemungkinan juga menjadi yang pertama di Jawa Tengah.
Menurutnya, gerakan sederhana tersebut diharapkan mampu menginspirasi lebih banyak orangtua untuk berani menulis cerita dan menghimpunnya dalam bentuk buku antologi.
“Dengan kumpulan cerita seperti ini, maka akan terjadi semacam subsidi silang cerita. Orang tua punya bank dongeng lebih banyak dan bervariasi untuk anak-anaknya,” ujar Didik.
Ia menilai, upaya membangun generasi Indonesia Emas sesungguhnya dapat dimulai dari hal-hal sederhana, salah satunya membiasakan tradisi mendongeng di lingkungan keluarga. Melalui dongeng, anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga belajar tentang karakter, empati, dan nilai-nilai kehidupan.
Sementara itu, Kepala KB Sinar Kasih, Ernawati Ambarningrum, S.H., mengaku bersyukur lembaganya mendapat kesempatan bekerja sama dengan SeKata dalam menggerakkan literasi dongeng bagi guru dan orangtua murid.
Ernawati mengatakan, kegiatan tersebut merupakan pengalaman pertama bagi KB Sinar Kasih. Ia merasakan manfaat besar dari pelatihan tersebut, terutama dalam membantu guru dan orangtua menanamkan nilai-nilai karakter kepada anak sejak usia dini.
“Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi kami menulis sebuah cerita. Biasanya para guru mendongeng dari kisah-kisah lama yang sudah ada,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena acara peluncuran buku yang menghadirkan Wakil Wali Kota Surakarta itu dapat berlangsung lancar tanpa kendala berarti.
“Kami tadi hanya bisa berserah sepenuhnya kepada Tuhan. Biarlah Dia sendiri yang berkarya. Puji Tuhan semuanya berjalan baik,” tuturnya.
Program literasi tersebut juga membuka potensi yang selama ini tersembunyi. Sebagian besar guru mengaku belum pernah menulis dongeng untuk anak-anak, meski dalam kesehariannya mereka terbiasa mendongeng di kelas. Setelah mendapatkan berbagai trik menggali ide cerita, mereka akhirnya mampu menghasilkan karya sendiri.
Pengalaman serupa juga dirasakan para orangtua murid. Menulis cerita sebelumnya merupakan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan. Namun setelah mengikuti pelatihan, banyak di antara mereka yang tertantang untuk mencoba dan berhasil melahirkan karya yang layak dibukukan.
Editor buku antologi tersebut, Hamdani MW, menilai para guru dan orangtua murid sebenarnya memiliki banyak gagasan cerita yang menarik dan tajam. Menurutnya, ide-ide tersebut muncul setelah peserta mendapatkan stimulus dan teknik tertentu dalam proses kreatif menulis.
Tantangan terbesar yang dihadapi para penulis pemula, lanjut Hamdani, umumnya terletak pada penyusunan alur, logika cerita, serta penggunaan bahasa. Namun bagi mereka yang benar-benar baru memulai, keberanian menuangkan gagasan ke dalam tulisan sudah merupakan capaian yang sangat baik.
“Bagi seorang pemula yang benar-benar masih nol, sekadar menuangkan gagasan itu saja sudah bagus. Kalau melalui cara itu mereka sudah merasa senang dan nyaman, itu tanda-tanda baik,” paparnya. [*]

