HUJAN baru saja berhenti. Air kolam di wilayah Desa Minomartani, Kecamatan Ngaglik, Sleman itu terlihat penuh. Bunga-bunga teratai bertebaran di atas permukaan air. Di salah satu daun teratai yang paling besar, duduklah Proki si anak katak. Ia bernyanyi dengan riang, karena hujan yang dituggu-tunggunya telah tiba.
“Kung kong… kung kong.. Hujan telah tiba, hujan telah tiba, hatiku gembira… Hore, hore, horee…!” ujarnya dalam sebuah lagu yang riang gembira.
Proki lalu melompat turun ke air dan berenang-renang dengan hati berbunga-bunga. Saat itulah Proki bertemu Tiki, si anak itik yang berdiri di tepi kolam.
Proki dan Tiki sudah menjadi sahabat sejak beberapa bulan ini.
“Ayo Tiki, turunlah, airnya segar sekali…” ajak Proki sembari berkecipak di air.
“Kwek… kwek… kwek…. Aha, usul menarik. Tampaknaya segar sekali ya airnya?” ujar Tiki, kemudian masuk ke air.
Tiki menggerak-gerakkan kakinya ke depan dan belakang, dan hoii…. hoiii… tubuhnya melaju dengan cepat di atas air. Badannya tidak tenggelam. Sementara Proki mengikuti dan berenang di sampingnya. Lalu mereka bertemu dengan Cicit, si anak ayam yang sedang berteduh di bawah pohon besar. Tiki dan Proki kemudian menepi.
“Hai Cicit, kenapa muram begitu? Ayo, mainlah dengan kami. Segar sekali rasanya air ini,” ajak Proki.
“Benar, ayo, turunlah ke air…” ajak Tiki.
Cicit menggeleng. Ia teringat akan nasehat ibunya untuk tidak sekali-kali main di kolam. Ibunya mengingatkan, karena ia tak dapat berenang, kalau ia terjun ke kolam bisa tenggelam.
“Pyiikk… pyiiikkk. Maaf kawan, aku dilarang main air. Aku kan tidak bisa berenang,” ujar Cicit.
“Siapa bilang tidak bisa? Lihat, Tiki saja bisa? Kenapa kamu tidak bisa? Ayo dong…!”
Cicit termenung. Aduuuh…. bagaimana ini? Hatinya mulai bimbang. Apa benar kata Proki, bahwa dia bisa berenang? Ia memperhatikan dirinya sendiri. Bentuk tubuhnya dengan Tiki memang tidak jauh beda. Dia dan tiki sama-sama punya dua kaki, punya paruh, punya sayap dan ekor yang hampir sama.
“Ah, Tiki saja bisa berenang, mestinya aku juga bisa. Tapi, kenapa ia tidak pernah melihat ibunya berenang ya?” Cicit benar-benar bingung dibuatnya.
“Ayo Cicit!” seru Proki dan Tiki bersamaan.
“Tidak ah, aku tidak bisa berenang. Kalian saja bermain air, aku di sini saja…” ujarnya.
Proki dan Tiki berpikir, bagaimana mengajak Cicit bermain bersama, biar lebih seru.
“Aku ada ide. Gimana kalau kamu naik di atas daun teratai ini? Lalu kita bisa bersama-sama menyusuri kolam. Tentu indah sekali pemandangannya…”
Tiki dan Cicit terbelalak. Ide yang bagus. “Tapi apa daunnya kuat saya naiki?”
“Tentu kuat dong, kan badanmu kecil…” ujar Tiki.
Cicit pun mengangguk gembira. Saking gembiranya, lupa sudah ia akan nasehat ibunya untuk tidak bermain air. Proki dan Tiki pun mendorong sebuah daun teratai menepi dan menahannya agar tidak hanyut oleh arus air.
“Ayo, naiklah ke atas daun. Ini kami pegangi.”
Dengan hati-hati, Cicit melangkah ke atas daun. Hups….! Daun itu pun bergoyang-goyang oleh beban tubuh Cicit. Cicit berteriak ketakutan. Tapi setelah beberapa lama, daun itu tenang kembali. Proki dan Tiki mendorong daun teratai itu keliling kolam, dan Cicit berdiri di atasnya.
Ketiga anak itu berteriak-teriak kegirangan. Apalagi Cicit, merasa sangat gembira. Ini baru pertama kalinya bagi Cicit bermain-main di tengah kolam. Saking gembiranya, Cicit melompat-lompat dengan girangnya.
“Pyiikkk… pyiii…. Asyik… oiii… indah sekali pemandangan di sini!” serunya berulang-ulang.
Proki dan Tiki juga bergembira. Cicit melompat-lompat kegirangan, dan tanpa dia sadari, kuku-kukunya yang tajam lama-lama mengoyak daun teratai itu hingga sobek. Daun teratai itu pun perlahan-lahan tenggelam. Cicit terkejut kakinya terbenam di air. Ia meronta-ronta dan menangis ketakutan.
“Hiiii…. Aku takut… aku tak mau tenggelam…!” teriaknya.
Proki dan Tiki kebingungan dan tak bisa menolong Cicit. Air sudah sampai ke leher Cicit, ketika Cicit kehabisan tenaga. Namun lama kelamaan daun teratai itu naik kembali ke permukaan. Aneh, daun teratai itu bergerak pelan-pelan ke tepi danau dan berhenti tepat di bawah pohon, di mana si induk ayam sudah menunggu.
Cicit melompat kembali ke daratan, dan menghambur ke pelukan induknya. Lalu menyembullah kepala Gembul, si Kura-kura dari bawah daun teratai yang sobek-sobek itu. Cicit, Tiki dan Proki pun terkejut. Ternyata Cicit telah diselamatkan oleh Gembul si kura-kura.
Induk ayam pun mengucapkan terima kasih kepada Gembul. Sementara Proki dan Tiki minta maaf kepada induk ayam, karena mereka telah membujuk Cicit yang tak bisa berenang bermain-main di dalam air. Keduanya berjanji tidak akan berbuat nakal lagi. [*]
Dongeng oleh Hamdani MW
Pesan moral:
Anak-anak, pesan moral dari cerita ini adalah bahwa setiap hewan maupun manusia punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga tidak perlu memaksakan diri meniru teman bila hal itu berbahaya. Cicit hampir celaka karena melanggar pesan ibunya dan tergoda ajakan bermain di air, padahal ia tidak bisa berenang. Untung ada Gembul yang menolong, tetapi pengalaman itu membuat Cicit sadar bahwa nasihat orang tua diberikan demi kebaikan dan keselamatannya. Dari sini anak-anak bisa belajar bahwa mendengarkan nasehat orang tua serta mengetahui batas kemampuan diri sendiri adalah hal yang sangat penting.

