MENJELANG ulang tahunnya, Evi membayangkan bakal mendapatkan hadiah yang indah-indah. Sepatukah? Baju baru? Mmmm…. tas ataukah kue tart dengan lilin-lilin kecil berdiri memutar yang cantik? Ah, sudah tambah setahun usiaku. Tak salah kalau hari bersejarah itu dirayakan? Pikir Evi menghibur diri.
“Kenapa diam? Bingung ya?” sahut Mama menggoda. Papa tersenyum di dekatnya.
Oh, akhirnya Evi telah menemukan sesuatu dalam pikirannya. Segera ia berbalik, berlari masuk ke kamarnya. Sebentar kemudian ia sudah keluar lagi sambil menenteng tas sekolahnya. Ditunjukkannya tas itu kepada Papa dan Mamanya.
“Lihat, Pa. Tas Evi talinya sudah hampir putus, nih. Bagaimana kalau Evi dibelikan tas saja. Boleh kan, Pa ?” ujar Evi ceria dan penuh harap.
“Tentu saja boleh, sayang …” ujar ayahnya gemas.
Papa dan Mama tampak gembira. Ulang tahun puteri satu-satunya itu memang sudah sepatutnya dirayakan. Tak salah bila keinginannya untuk dibelikan tas baru itu dikabulkan. Mereka memang sudah menganggarkan dana untuk ulang tahun Evi. Ah, masih sepuluh hari lagi, pikir Evi tidak sabar menunggu hari ulang tahunnya. Dan tentu saja, menunggu hadiah tas baru. Lama sekali rasanya hari-hari ini berjalan, pikirnya.
Esok paginya, Evi menjemput Ruri, sahabatnya di rumah. Jaraknya tidak begitu jauh dari rumah Evi. Kebetulan mereka satu sekolah, dan satu kelas lagi. Bedanya, orangtua Evi adalah pegawai negeri, sedangkan Ruri anak seorang janda, yang sehari-harinya berjualan makanan kecil untuk hidup. Setiap hari mereka selalu berangkat berdua.
Beberapa saat lamanya Evi mengetuk pintu dan memanggil-manggil, barulah Ruri muncul. Masih dengan wajah kusut dan tampak belum mandi, membuat Evi terperanjat.
“Lho, hari sudah hampir siang begini belum siap juga, Ruri ?” tanyanya kaget.
“Saya… saya tidak bisa sekolah hari ini, Evi,” ujar Ruri dengan wajah sedih.
“Lho, memangnya kenapa? Kamu sakit?” tanya Evi heran.
“Tidak, bukan saya. Emak yang sakit. Aku harus menungguinya, tubuh Emak panas. Tadi malam menggigil. Aku nanti harus mengantarnya ke Puskesmas,” ujarnya sembari menggigit bibir.
Kasihan… pikir Evi dalam hati.
“Kalau boleh, aku mau nitip surat ijin untuk Pak Guru. Boleh, kan?”
“Ah, tentu-tentu.”
Ruri bergegas masuk ke kamarnya, dan sebentar kemudian sudah keluar lagi dengan membawa sepucuk amplop. Menerima amplop itu, benak Evi merasa tidak tenang.
Memikirkan anak sekecil Ruri, seorang diri mengantarkan emaknya yang sakit dengan becak. Lalu, ah, bagaimana dengan biaya periksa, biaya obat. Tentu cukup mahal. Dari mana pula uangya untuk berobat kalau emaknya sakit dan tidak kerja? Beda dengan dirinya. Setiap saat ia mudah saja minta uang kepada Papa atau Mamanya. Ah, sungguh berat beban Ruri, pikirnya dalam hati.
*****
Beberapa hari sebelum tiba hari ulang tahunnya, Evi menemui Papanya di ruang tengah. Ada sesuatu yang harus ia katakan secepatnya.
“Pa, untuk ulang tahun Evi, bagaimana kalau … kalau Evi minta uang aja. Nanti aku beli tas sama Ruri saja sepulang sekolah, ya ? Evi kan sudah besar, sudah bisa milih sendiri…” ujar Evi merajuk.
“Ooo… Begitu ? Memangnya kenapa ? Tidak ingin jalan-jalan sama Mama Papa sambil makan sio may kesukaanmu ?” tukas papa.
“Okelah kalau memang itu maumu. Anak Papa memang sudah besar, bukan ?” ujar Papa sembari mencubit pipi puterinya.
Malam harinya, setelah belajar, diam-diam Evi sibuk mengerjakan sesuatu di kamarnya. Yah, pokoknya harus jadi tepat hari ulang tahunku nanti. Harus. Pikirnya dalam hati.
Tepat saat ulang tahunnya tiba, Papa dan Mama dibuat kaget. Dilihatnya Evi tidak mengenakan tas baru seperti yang dikatakannya. Sepatu juga masih menggunakan sepatu yang lama. Baju, apalagi. Tak ada sesuatu yang berbeda dari penampilan anaknya. Padahal uangnya jelas sudah ia berikan.
“Lho, mana tasnya yang baru ? Kenapa masih tas yang lama ?” tanya Papa dan Mamanya.
Saat itu terlihat Evi masih menggunakan tas yang lama. Talinya yang kemarin hampir putus tampak sudah dijahit kembali dengan tangan, membuat Papa dan Mama heran. Evi terdiam beberapa saat. Dalam hati, ia agak takut untuk menjelaskan apa yang sebenarnya dia lakukan. Tapi apa boleh buat, ia memang harus berterus terang kepada Mama dan Papa.
“Maafkan Evi Ma, Pa. Uang dari Papa kemarin tidak Evi belikan tas…” jawabnya pelan.
“Terus ??”
“Uang dari Papa kemarin itu saya berikan Ruri,” jawab Evi terputus.
“Lho, kenapa begitu?” kejar Papa.
“Mmm…. anu, Pa. Eh, Emaknya Ruri baru sakit, perlu uang untuk berobat ke Puskesmas…”
“Lantas uang dari Papa, kamu berikan?” tanya Papa mendesak. Evi cemas, jangan-jangan Papanya marah.
“Iya, Pa, uang itu Evi berikan. Lagian… tas Evi kan masih bisa dijahit jahit sendiri. Maafkan Evi ya Pa, kalau Evi salah,” ujar Evi sambil menunduk. Sekilas Papa melihat tas hasil sulaman itu masih tergantung di bahu puterinya.
Papa dan Mama tertegun beberapa lama. Sesaat tak mampu berkata-apa-apa. Rasa curiga dan kemarahan yang tadinya sempat muncul, perlahan-lahan hilang. Justru rasa haru dan bangga yang kemudian merebak dalam hati mereka. Air mata mengambang di pelupuk mata Papa dan Mama. Mereka terharu bahwa puteri mereka ternyata masih punya perhatian terhadap sesamanya yang membutuhkan. (*)
BIODATA
Hamdani MW adalah nama pena dari Suhamdani. Lahir di Gunungkidul, Yogyakarta. Cerpen-cerpennya pernah dimuat Majalah Familia, Tabloid Citra majalah sastra Horison, Surabaya Post, majalah Kartini, Kedaulatan Rakyat, Bernas, Solopos, Bisnis Indonesia majalah Gong, tabloid Teras dan Harian Jurnal Nasional. Cerita-cerita pendeknya terhimpun dalam antologi tunggal Romansa, Labuh, Yogyakarta 2005. Buku Romansa menjadi salah satu acuan dalam BSE Cakap Berbahasa Indonesia untuk Kelas VII SMP/MTs, Pusat Perbukuan Kemendiknas tahun 2010. Geguritannya terhimpun dalam antologi Code, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) VII 2005, cerita-cerita pendeknya dalam Bahasa Jawa terangkum dalam antologi Bandha Pusaka, Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) dan Lembaga Kajian Budaya Surakarta (LKBS), 2005. Novel anaknya Petualangan Trio Ranger telah diterbitkan Indiva, Solo 2013, disusul dengan novel Meringkus 2 Monster Hutan oleh penerbit yang sama di tahun 2020. Novel berjudul Misteri Cat Merah di Kepala Arca dalam proses penerbitan, masih di penerbit yang sama. Antologi cerita anaknya berjudul Semut Hitam dan Semut Merah pernah diterbitkan oleh penerbit Andi, Yogyakarta. Informasi lebih lanjut bisa ditelusuri dengan kata kunci: Hamdani MW di mesin pencari google. Tinggal di: Jalan Sri Gading V/7 Turisari, Solo, Jawa Tengah, 57132. Telepon: 082328048189. E-mail: hamdani0969@gmail.com

