Belajar Menulis Cerita Tanpa Ribet, Siswa SMP Marsudirini Antusias Ikuti Kelas Kreatif SeKata

2506 sekata ham

SOLO, SEKATA — Menulis cerita ternyata tidak harus dimulai dari ide besar atau teori yang rumit. Bahkan, membuat sebuah cerita bisa semudah meracik mi instan. Gagasan itulah yang diperkenalkan kepada para murid SMP Marsudirini Solo melalui kelas kreatif bertajuk “Bikin Cerita Segampang Bikin Indomie” yang digelar pada Kamis (12/3/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama satu setengah jam, mulai pukul 14.00 hingga 15.30 WIB, itu menjadi bagian dari upaya menumbuhkan budaya literasi sekaligus keberanian berkarya di kalangan pelajar. Program tersebut digagas oleh komunitas literasi SeKata yang selama ini aktif mendorong lahirnya penulis-penulis muda melalui berbagai pelatihan kreatif.

Sejak awal kegiatan, para peserta diajak melihat menulis dari sudut pandang yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa cerita dapat lahir dari pengalaman sehari-hari, benda-benda di sekitar, hingga hal-hal sederhana yang kerap dianggap sepele. Dengan pendekatan yang ringan, siswa diajak mengubah ide sederhana menjadi sebuah kisah yang menarik untuk dibaca.

Selain melatih kemampuan merangkai cerita, kegiatan tersebut juga menanamkan pemahaman bahwa menulis dapat menjadi sarana mengekspresikan diri, mengasah kreativitas, serta membangun karakter positif. Apa yang dilihat, didengar, maupun dibaca, dapat menjadi bahan baku yang tak pernah habis untuk dijadikan cerita.

Tiga narasumber hadir dalam kegiatan itu, yakni Didik Kartika sebagai pembimbing jurnalistik, Hamdani MW sebagai penulis dongeng, dan Albert Wei yang dikenal sebagai mind creator.

2506 sekata albert
Albert Wei mengajak para murid SMP Marsudirini untuk berani menuliskan imajinasi dan impiannya dalam sebuah catatan harian | Dok. SeKata

Albert Wei mengajak para murid membiasakan diri menuliskan impian dan keinginan mereka dalam sebuah diary. Menurutnya, kebiasaan tersebut bukan sekadar latihan menulis, tetapi juga dapat membantu menanamkan tujuan hidup dalam pikiran bawah sadar sehingga lebih mudah diwujudkan di masa depan.

Sementara itu, Hamdani MW mengajak peserta bermain dengan imajinasi. Melalui sejumlah kata acak yang dilontarkan secara spontan, para siswa diminta mengembangkan ide dan merangkainya menjadi sebuah cerita. Metode tersebut terbukti mampu memancing kreativitas para murid yang tampak antusias mengemukakan berbagai gagasan unik dan tak terduga.

Di sela kegiatan, Didik Kartika membacakan salah satu puisi karyanya di hadapan peserta. Ia menegaskan bahwa setiap anak memiliki potensi dan ketertarikan yang berbeda-beda dalam berkarya, baik melalui tulisan, puisi, desain, maupun seni lainnya.

2506 sekata didik
Didik Kartika membacakan puisi karyanya, sebagai upaya untuk menginspirasi para mudir SMP Marsudirini untuk berani berkarya, apapun bentuknya | Dok. SeKata

Menurut Didik, yang terpenting adalah keberanian untuk memulai. Ia berharap kegiatan tersebut dapat menumbuhkan rasa percaya diri para murid dalam menuangkan gagasan, pengalaman, dan imajinasi mereka ke dalam bentuk karya tulis yang menarik.

Kegiatan literasi semacam ini dinilai penting untuk membangun kebiasaan menulis sejak usia sekolah. Dengan metode yang kreatif dan menyenangkan, menulis tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang sulit, melainkan sebagai ruang bermain yang memberi kebebasan bagi anak-anak untuk berimajinasi dan berekspresi.

Menariknya, di penghujung kegiatan para murid tidak hanya mendengarkan materi, tetapi langsung diajak mempraktikkan apa yang telah dipelajari. Dengan penuh semangat mereka mulai menulis cerita masing-masing. Hasil karya tersebut nantinya akan dihimpun menjadi sebuah buku antologi cerita sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas para siswa. [*]

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *