DI sebuah perkampungan, tinggal seorang anak bajang dan seorang nenek. Biasanya, setiap bulan purnama, si anak bajang menghabiskan malam di luar. Berdiri di atas kakinya yang pendek, menatap bulan.
“Apa yang kau pandangi, cucuku?” tanya sang nenek suatu ketika.
“Lihat itu, Nek,” ujar si bajang sambil menunjuk bulan bulat di angkasa.
“Bulan itu, maksud Bajang?” tanya nenek heran.
“Betul, Nek. Indah sekali ya, Nek?”
“Kita harus mensyukuri anugerah keindahan ini, cucuku…” ujar nenek sembari membelai kepala cucunya dengan asih.
“Bisakah nenek ambilkan Bulan untukku?”
Sang nenek terhenyak oleh pertanyaan cucunya yang tiba-tiba. Namun dengan bijak ia menjawab, “Tak perlu gundah, cucuku. Kelak, kau pasti akan sampai ke sana….”
“Aku? Dengan kakikku yang pendek dan kecil ini, Nek?”
“Yakinlah, Bajang pasti bisa. Sekarang tidurlah. Kelak kau akan tahu sendiri, jika waktunya tiba,” ujar sang Nenek dengan sabar.
***
Malam itu, bulan bulat sempurna, tak ada awan melintas di angkasa. Permukaan bulan itu putih seperti sutera bidadari. Si anak bajang tak henti-hentinya memandanginya. Ia kemudian berlari-lari, dan sembari sesekali melompat-lompat. Tangan kanannya berusaha meraih ke atas setinggi-tingginya.
“Oh, bulan, kemarilah, kemarilah. Temani aku!” teriaknya.
Si anak bajang terus berlari sembari melompat-lompat. Ia ingin mengambil bulan karena rindu. Ia terus berlari, dan akhirnya gelap. Bayangan bulan di tanah hilang. Saat mendongak, ia baru sadar, bulan telah tertutup wajah raksasa.
“Selamat malam anak manis, mengapa berlari-lari?” tanya raksasa itu dengan ramah.
Raksasa itu kemudian berjongkok, dan mendekatkan wajahnya ke muka di anak bajang, yang terlihat takut. “Kenapa kau takut, anak kecil?”
“Kau…. Kau siapa?!”
“Aku dewa bulan, kulihat kau selalu memandang dan merindukan bulan?”
“Aku ingin bisa memegang bulan itu?” ujar si Bajang.
“Jika kau ingin mengambil bulan, kau harus mengubah dirimu menjadi tinggi. Bagaimana mungkin tanganmu yang kecil dan kakimu yang pendek itu meraih bulan yang jauh di atas sana?”
“Tapi…. Tapi nenek bilang, kelak aku dapat meraih bulan …” ujarnya merajuk.
“Hohohoho…….” seketika tawa sang raksasa meledak, membuat wajah si anak bajang berkerut-kerut. Tak mengerti.
“Kau harus meninggikan tubuhmu setinggi bulan kalau kau mau meraih bulan. Lihat, tinggimu tak sampai semata kakiku.”
Mendengar jawaban sang raksasa itu, kedua mata si anak bajang menggantung, dan menahan air mata. Ia kecewa. Hatinya merasa dibohongi oleh neneknya.
“Tapi jangan cemas, anak kecil. Kau pasti bisa meraih bulan itu,” sang anak bajang terhenyak.
“Syaratnya, kau tinggal bersamaku selama beberapa lama. Aku punya makanan yang dapat membuat tubuhm tinggi sampai bulan….”
“Apa benar?” mata si anak bajang terbelalak.
***
Sejak itu, si anak bajang meninggalkan neneknya dan ikut bersama sang raksasa. Setiap hari, si anak bajang mendapatkan makanan yang enak-enak, membuatnya selalu gembira. Apalagi, si raksasa menjanjikan tubuhnya akan setinggi bulan.
Namun setiap hari pula, si raksasa itu selalu menahan keinginannya untuk menelan si anak bajang. Ah, masih seribu hari lagi….. pikir si raksasa. Tentu, seribu hari tubuh si anak bajang sudah cukup gurih untuk jadi santapan, batin si raksasa.
Tepat ketika tiba seribu hari.
“Kenapa aku masih belum setinggi bulan?” tanya si anak bajang dengan kecewa.
“Tenang saja, saat ini pun, kalau memang rindumu akan bulan tak dapat dicegah, kau sudah dapat memegang bulan….”
“Benarkah, bagaimana caranya?”
“Ke sinilah,” ujar si raksasa sembari berjongkok dan mengulurkan tangannya di depan kaki si anak bajang.
“Naiklah ke telapak tanganku, kau akan kuantarkan ke bulan…”
Si anak bajang merangkak naik ke atas telapak tangan si raksasa. Ia gembira ketika tubuhnya terangkat naik ke angkasa. Dalam sekejap, ia bisa menyaksikan indahnya muka bumi dari atas. Lampu-lampu di perkampungan berkelap-kelip seperti kunang-kunang. Oh, di manakah nenek? Mungkin di antara ratusan kelap-kelip itu? Mendadak si anak bajang teringat neneknya yang yang sudah tua dan ditinggalkannya sendiri. Dan ia rindu nenek.
“Oh, neneek… Bajang melihat bulan..!” teriaknya parau.
Sampai di puncak ketinggian, si bajang bertanya pada sang raksasa,”Kenapa bulan itu masih jauh di atas sana?” tanyanya dengan gusar.
“Itu bukan bulan yang asli, Nak. Itu hanya bayanganmu saja. Bulan yang asli ada di sini,” ujar si raksasa sembari menunjuk ke giginya.
Si bajang menoleh, dan di gigi raksasa yang berkilat itu ia melihat bayangan bulan. Bersama terbukanya mulut sang raksasa, bayangan bulan itu mendadak lenyap begitu mulut raksasa terkatup. Dan bajang belum sempat melompat dari tangan raksasa. (**)
Hamdani MW
Penulis cerita anak
Pesan moral:
Tidak semua impian bisa dicapai dengan cara instan dan mengabaikan nasihat orang yang menyayangi kita. Terkadang, janji-janji indah dari orang asing yang belum kita kenal baik, justru menyimpan bahaya. Kisah ini mengingatkan agar kita tidak mudah tergoda oleh iming-iming, dan selalu menghargai serta mempercayai kasih sayang tulus dari keluarga yang sudah terbukti setia mendampingi kita.

