Sebelum Atur Gawai Anak, Orang Tua Perlu Belajar Mengatur Diri

mendidik anak-anak di era digital

Menjadi orang tua di era digital menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Jika dahulu kekhawatiran orang tua lebih banyak berkisar pada tayangan televisi, pergaulan, atau lingkungan bermain, kini dunia anak terhubung dengan ruang yang jauh lebih luas melalui internet.

Bahkan, jejak digital seorang anak bisa dimulai ketika ia belum mengenal gawai.

Foto bayi yang diunggah orang tua, video aktivitas anak, momen pertama masuk sekolah, hingga berbagai cerita keseharian yang dibagikan di media sosial secara perlahan dapat menjadi bagian dari identitas digital anak.

Bagi orang tua, unggahan tersebut mungkin sekadar bentuk kebanggaan atau cara berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan teman. Namun di balik itu, ada persoalan yang perlu dipikirkan lebih jauh: sejauh mana anak memiliki hak atas kehidupan pribadinya sendiri?

Karena itu, membekali diri menjadi orang tua di era digital ternyata tidak cukup hanya dengan memahami teknologi. Pengetahuan mengenai pengaturan gawai, screen time, keamanan akun, hingga parental control memang penting. Namun semua itu perlu berjalan beriringan dengan kemampuan orang tua memahami emosi, kebutuhan, serta batasan anak.

Psikolog dari Tabula Rasa, Arnold Lukito, mengatakan bekal penting bagi orang tua saat ini bukan hanya kemampuan mengoperasikan teknologi, melainkan juga kemampuan memahami diri sendiri dan anak.

“Bekal yang paling penting dimiliki orang tua di era digital bukan hanya literasi teknologi, tetapi juga literasi emosi atau emotional intelligence. Banyak orang tua fokus pada screen time, parental control, dan hal-hal teknis lainnya. Padahal, yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak belajar mengenali emosi, membuat batasan (boundaries), memahami persetujuan (consent), serta menyadari bahwa dirinya berharga bukan karena dilihat banyak orang,” kata Arnold kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Menurut dia, digital parenting yang sehat sesungguhnya dimulai dari hubungan orang tua dengan dirinya sendiri.

Orang tua perlu memiliki kesadaran terhadap kebiasaan dan perilaku digitalnya. Ada kalanya seseorang mengunggah foto anak bukan semata-mata untuk berbagi kebahagiaan, tetapi juga karena ingin mendapatkan perhatian, apresiasi, atau validasi dari orang lain.

Kesadaran semacam itu penting agar orang tua dapat lebih bijak sebelum menjadikan kehidupan anak sebagai bagian dari konsumsi publik di media sosial.

Arnold menjelaskan, terdapat empat kemampuan yang penting dimiliki orang tua, yakni self-awareness atau kesadaran diri, self-regulation atau pengendalian diri, social awareness atau kepedulian sosial, serta relationship management atau kemampuan membangun hubungan.

Kesadaran diri membantu orang tua memahami alasan di balik setiap keputusan yang dibuat di ruang digital.

“Orang tua perlu menyadari motivasi di balik perilaku digitalnya. Apakah mengunggah konten anak benar-benar untuk berbagi kebahagiaan, atau sebenarnya sedang mencari validasi?” ujarnya.

Setelah memiliki kesadaran tersebut, orang tua juga perlu belajar mengendalikan diri. Tidak semua foto dan video tentang anak harus langsung dibagikan. Terlebih jika konten tersebut menyangkut identitas, kondisi emosional, kesehatan, lokasi, sekolah, maupun kehidupan pribadi anak.

Pada saat yang sama, orang tua perlu memahami bahwa anak merupakan individu yang memiliki hak atas privasi, perasaan, dan batasannya sendiri.

Di sinilah komunikasi menjadi penting. Anak perlu diajak berbicara secara bertahap mengenai informasi apa yang aman dibagikan dan apa saja yang sebaiknya tetap menjadi bagian dari ruang pribadi keluarga.

Namun, menurut Arnold, semua pembelajaran tersebut akan jauh lebih efektif jika dimulai dari keteladanan orang tua.

Anak belajar terutama melalui apa yang mereka lihat setiap hari. Orang tua yang terus-menerus sibuk dengan ponsel, misalnya, akan lebih sulit meminta anak untuk membatasi penggunaan gawai hanya dengan nasihat.

“Anak tidak belajar perilaku digital dari nasihat, melainkan melalui proses meniru atau modelling,” kata Arnold.

Ia mengingatkan bahwa kesehatan digital anak sangat berkaitan dengan bagaimana orang tua memperlakukan perangkat digital dalam kehidupan sehari-hari.

“Sulit membesarkan anak yang sehat secara digital kalau orang tuanya sendiri gelisah, haus validasi, dan cenderung terlalu mengumbar kehidupan di media sosial. Kesehatan digital anak sebenarnya dimulai dari hubungan orang tua dengan gadget-nya sendiri,” katanya.

Dengan demikian, sebelum sibuk mengatur berapa lama anak boleh menggunakan gawai, orang tua juga perlu melihat kebiasaan digitalnya sendiri.

Hal lain yang sering luput adalah bahwa pendidikan mengenai keamanan digital sebenarnya dapat dimulai jauh sebelum anak memiliki telepon pintar.

Bahkan ketika anak masih bayi, orang tua sudah dapat mulai membangun kebiasaan untuk melindungi privasinya. Salah satunya dengan berpikir ulang sebelum mengunggah foto atau video anak.

Apakah foto tersebut memperlihatkan lokasi rumah? Nama sekolah? Seragam? Kondisi kesehatan? Atau informasi lain yang memungkinkan orang lain mengenali kehidupan pribadi anak?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu dapat menjadi langkah awal membangun budaya digital yang lebih aman di dalam keluarga.

Ketika anak mulai tumbuh, pengenalan mengenai privasi juga dapat dilakukan menggunakan bahasa yang sederhana. Anak usia dini, misalnya, dapat diajarkan bahwa tubuhnya adalah miliknya dan tidak semua foto harus dikirim atau dibagikan kepada orang lain.

Mereka juga dapat dibiasakan untuk mengatakan tidak ketika tidak ingin difoto.

“Anak usia dini bisa mulai diajarkan bahwa ini tubuh kamu, tidak semua foto harus dikirim, kalau tidak mau difoto boleh bilang tidak, atau kita perlu meminta izin sebelum mengirim foto orang lain,” ujar Arnold.

Kebiasaan sederhana tersebut sesungguhnya sedang mengajarkan konsep consent, boundaries, dan kepemilikan atas diri sendiri.

Karena itu, orang tua juga dapat mulai membiasakan meminta izin kepada anak ketika hendak memotret mereka.

“Mungkin terdengar aneh bertanya, ‘Boleh Ayah foto?’. Padahal, kebiasaan ini menumbuhkan konsep diri pada anak bahwa pendapat dan persetujuannya diperhitungkan dan dianggap penting,” katanya.

Seiring bertambahnya usia, pembelajaran dapat diberikan secara bertahap. Anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar mulai dapat dikenalkan dengan informasi yang bersifat pribadi, seperti nama lengkap, alamat rumah, nama sekolah, foto berseragam, lokasi secara langsung, maupun informasi kesehatan.

Anak juga perlu memahami bahwa sesuatu yang sudah dibagikan di internet tidak selalu mudah ditarik kembali.

Dalam konteks inilah muncul konsep digital consent, yakni penghormatan terhadap hak anak untuk menentukan apakah foto, identitas, atau cerita tentang dirinya boleh dibagikan di ruang digital.

Menurut Arnold, anak tidak semestinya dipandang hanya sebagai bagian dari konten media sosial orang tua.

“Anak adalah individu, bukan ‘properti digital’ orang tua. Orang tua memang punya tanggung jawab mengambil keputusan untuk anak, tetapi bukan berarti semua hal tentang anak perlu dan boleh dibagikan,” ujarnya.

Penerapan digital consent tentu perlu disesuaikan dengan usia dan tingkat pemahaman anak.

Pada bayi dan balita, misalnya, orang tua belum mungkin meminta persetujuan secara utuh. Karena itu, keputusan berbagi informasi seharusnya tetap didasarkan pada kepentingan terbaik bagi anak.

Ketika anak berusia sekitar tiga hingga enam tahun, orang tua sudah dapat memberikan pilihan sederhana. Misalnya, menanyakan apakah sebuah foto boleh dikirim kepada kakek dan nenek atau cukup disimpan sebagai koleksi keluarga.

Memasuki usia sekolah dasar, pembicaraan dapat diperluas pada konsekuensi berbagi informasi di internet. Sementara ketika anak mulai memasuki masa remaja, meminta izin sebelum mengunggah foto atau cerita tentang dirinya menjadi bentuk penghormatan terhadap privasi yang semakin penting.

Yang perlu dipahami, persetujuan bukan sekadar formalitas.

“Consent bukan bertanya ‘boleh ya’ sambil memaksa. Consent harus memberi ruang bagi anak untuk berkata tidak. Di situlah anak belajar bahwa batasannya valid dan sah. Bekal ini akan berguna bukan hanya di media sosial, tetapi juga dalam pertemanan, relasi, hingga kehidupan emosionalnya,” kata Arnold.

Pada akhirnya, mendidik anak di era digital bukan semata-mata persoalan seberapa ketat orang tua mengawasi layar yang ada di tangan anak.

Lebih dari itu, ada pekerjaan yang jauh lebih mendasar: membangun kemampuan anak mengenali dirinya, memahami batasan, menghargai privasi, berani mengatakan tidak, sekaligus memahami bahwa nilai dirinya tidak ditentukan oleh jumlah perhatian yang diperolehnya di dunia maya.

Dan semua itu dapat dimulai dari rumah, bahkan sebelum anak memiliki gawai pertamanya.  [*]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *