Pentingnya Mendongeng di Tengah Derasnya Dunia Digital

bintang kecil tak lagi pendeta yudha fu

Anak-anak hari ini tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan masa kecil generasi sebelumnya. Telepon pintar,  tablet, video pendek, game  dan berbagai platform digital lainnya hadir begitu dekat dalam keseharian mereka.

Layar gawai menawarkan warna, suara, gerak, dan hiburan yang seolah tak pernah habis. Namun, di tengah gemerlap dunia digital itu, ada satu tradisi sederhana yang sesungguhnya masih memiliki tempat penting: dongeng.

Mendongeng bukan sekadar kegiatan untuk membuat anak terhibur sebelum tidur. Di balik cerita tentang seekor kelinci yang cerdik, kura-kura yang pantang menyerah, atau seorang anak yang berani menghadapi ketakutannya, terdapat proses belajar yang berlangsung secara perlahan.

Dalam proses mendengarkan dongeng, anak mendengar kata-kata, membayangkan tokoh, mengikuti alur, mengenali persoalan, sekaligus belajar memahami perasaan.

Karena itu, dongeng justru semakin penting di era digital. Ketika anak terbiasa mendapatkan hiburan secara cepat melalui layar, dongeng mengajarkan sesuatu yang berbeda: kesediaan untuk mendengarkan, mengikuti proses, membayangkan, dan berinteraksi.

American Academy of Pediatrics (AAP) dalam kebijakan tentang pengembangan literasi anak menegaskan bahwa membaca bersama anak sejak usia dini dapat memperkuat hubungan antara anak dan orang tua sekaligus mendukung perkembangan bahasa, kognitif, dan sosial-emosional. AAP menyebut, “Shared reading is a positive parenting practice”—membaca bersama merupakan praktik pengasuhan yang positif.

Dongeng memiliki kekuatan pada interaksi tersebut. Ketika orang tua mendongeng, anak tidak hanya mendengar cerita. Mereka dapat bertanya, menyela, tertawa, menebak akhir cerita, bahkan membantah tindakan tokoh di dalamnya. Dari percakapan sederhana itu, kemampuan berbahasa anak berkembang.

Penelitian yang dirangkum AAP menunjukkan bahwa membaca nyaring kepada anak memperkaya kosakata dan meningkatkan kompleksitas bahasa yang mereka dengar. Membaca bersama juga menciptakan lebih banyak interaksi antara orang dewasa dan anak yang mendukung perkembangan kognitif, bahasa, serta sosial-emosional.

Di sinilah dongeng memiliki kelebihan yang tidak selalu ditemukan dalam konsumsi media digital secara pasif. Ketika anak menonton video, cerita sudah divisualisasikan untuk mereka. Wajah tokoh, suara, tempat, bahkan ekspresi emosinya telah disediakan. Dalam dongeng, sebagian pekerjaan itu justru dilakukan oleh imajinasi anak.

Seekor naga yang diceritakan sedang menjaga sebuah gua, misalnya, dapat memiliki bentuk yang berbeda-beda dalam bayangan setiap anak. Begitu pula hutan, istana, sungai, atau tokoh utama dalam sebuah cerita. Anak belajar menciptakan gambar di dalam kepalanya sendiri.

Kemampuan membayangkan inilah yang kemudian dapat menjadi modal penting bagi kreativitas. Anak tidak sekadar menerima cerita, tetapi ikut membangun dunia cerita tersebut dalam pikirannya.

Dongeng juga merupakan ruang yang baik untuk mengenalkan nilai-nilai kehidupan tanpa harus selalu memberikan nasihat secara langsung. Anak dapat belajar tentang kejujuran melalui perilaku tokoh, memahami akibat dari kesombongan, merasakan pentingnya menolong sesama, atau melihat bagaimana keberanian tumbuh ketika seseorang menghadapi ketakutan.

Yang tidak kalah penting, dongeng dapat membantu anak mengenali emosi. Tokoh yang sedih, marah, takut, kecewa, cemburu, atau bahagia memberi kesempatan kepada anak untuk memahami bahwa perasaan tersebut merupakan bagian dari kehidupan manusia.

Kajian AAP bahkan menemukan bahwa membaca bersama dapat mendukung perkembangan sosial-emosional anak, termasuk kemampuan memahami emosi, kompetensi sosial, dan pengaturan diri.

Maka, menghadirkan dongeng di tengah era digital tidak berarti orang tua harus memusuhi teknologi. Anak tetap perlu mengenal dunia digital dan memanfaatkan teknologi secara sehat. Persoalannya adalah bagaimana memastikan layar tidak mengambil seluruh ruang yang seharusnya diisi percakapan, permainan, membaca, dan hubungan langsung antara anak dengan orang-orang terdekatnya.

Dongeng bisa menjadi salah satu jalan keluar yang sederhana.

Tidak diperlukan perangkat mahal. Tidak membutuhkan koneksi internet. Bahkan tidak selalu membutuhkan buku. Orang tua dapat bercerita tentang pengalaman masa kecilnya, kisah rakyat dari daerah asal, cerita binatang, atau kisah sederhana yang dibuat spontan menjelang tidur.

Yang terpenting bukan seberapa sempurna cerita itu disampaikan. Yang jauh lebih berharga adalah kehadiran orang tua ketika anak mendengarkan.

Pada akhirnya, dongeng bukan sekadar cerita tentang masa lalu. Ia adalah jembatan yang menghubungkan anak dengan bahasa, imajinasi, nilai-nilai kehidupan, dan terutama dengan manusia lain.

Di tengah dunia yang semakin ramai oleh suara dari layar, mungkin anak-anak justru membutuhkan satu suara yang sederhana: suara seseorang yang duduk dekat mereka, membuka cerita, lalu berkata, “Dahulu kala…”

Namun dari kalimat sederhana itulah, sebuah dunia baru bisa tumbuh di dalam kepala seorang anak. [*] Disarikan dari berbagai sumber

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *