Banjir Informasi tapi Kemampuan Membaca Anak Justru Menurun, Kenapa?

1909 kemampuan membaca

MASALAH  literasi anak-anak ternyata bukan lagi sekadar soal apakah mereka masih gemar membaca buku atau tidak. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah ketika membaca dilakukan dengan tergesa-gesa, tetapi gagal memahami apa yang sebenarnya sedang dibaca.

Gambaran itu muncul dalam hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Dalam rentang 2015 hingga 2025, skor membaca rata-rata negara-negara OECD merosot 28 poin, dari 489 menjadi 461 poin.

OECD menyebut penurunan tersebut sebagai bagian dari kemerosotan kemampuan akademik yang lebih luas. Pada 2025, rata-rata capaian membaca negara-negara OECD menjadi yang terendah yang pernah tercatat dalam PISA.

Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menilai kondisi tersebut patut menjadi perhatian serius. Sebab, membaca bukan sekadar kemampuan memahami tulisan, melainkan menjadi pintu masuk bagi proses belajar pada hampir seluruh bidang pendidikan.

“Keterampilan membaca membantu pembelajaran di seluruh kurikulum. Kemampuan membaca juga sangat penting untuk menemukan, mengevaluasi, menafsirkan, dan merefleksikan informasi di dunia yang semakin digital,” kata Cormann.

Persoalan itu menjadi semakin kompleks ketika anak-anak hidup dalam lingkungan yang setiap hari dibanjiri informasi, termasuk melalui media sosial dan berbagai platform digital.

Dalam situasi tersebut, kemampuan membaca cepat belum tentu menunjukkan kemampuan memahami. Justru, data PISA menunjukkan adanya perubahan perilaku membaca yang mengarah pada kecenderungan siswa menjawab secara tergesa-gesa.

OECD mencatat, antara 2018 dan 2025, proporsi pembaca yang tergolong “hasty” atau terburu-buru meningkat sekitar 5 poin persentase, dari sekitar 6,6 persen menjadi 11,4 persen. Kelompok ini ditandai dengan kecenderungan memberikan jawaban cepat tetapi tidak tepat.

Direktur Bidang Pendidikan dan Keterampilan OECD Andreas Schleicher mengaitkan kondisi tersebut dengan melemahnya sejumlah keterampilan yang justru semakin dibutuhkan pada era kecerdasan buatan (AI).

Bukan hanya kemampuan menemukan informasi saja, tetapi juga kecakapan mengevaluasi informasi, mengambil keputusan, menghubungkan berbagai sumber, serta berpikir kritis terhadap isi bacaan.

“Di dunia yang semakin dibanjiri informasi, murid saat ini cenderung kurang mampu berpikir mendalam dan memisahkan informasi penting dari informasi yang tidak relevan,” ungkapnya.

 

Bagaimana dengan Indonesia?

Data PISA 2025 menunjukkan capaian siswa Indonesia dalam membaca memang mengalami kenaikan dibandingkan 2022. Skornya naik dari 359 menjadi 365 poin. Namun, angka tersebut masih terpaut cukup jauh dari rata-rata OECD yang mencapai 461 poin.

Jika dilihat dari tingkat kecakapan, tantangannya terlihat lebih jelas.

Hanya sekitar 27 persen siswa Indonesia yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam kemampuan membaca. Angka tersebut jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 69 persen.

Pada Level 2, siswa setidaknya sudah mampu menemukan gagasan utama dalam teks dengan tingkat panjang tertentu, mencari informasi berdasarkan kriteria yang dinyatakan secara eksplisit meskipun cukup kompleks, serta merefleksikan tujuan dan bentuk teks ketika mendapatkan arahan secara jelas.

Persoalannya, kemampuan tersebut belum banyak berkembang menuju tingkat yang lebih tinggi. OECD mencatat hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau lebih dalam kemampuan membaca. Sebagai pembanding, rata-rata siswa negara-negara OECD yang mencapai level tersebut berada di angka 6 persen.

Pada level tinggi itu, siswa dituntut bukan sekadar mengetahui isi bacaan. Mereka harus mampu memahami teks panjang, menghadapi konsep-konsep abstrak atau yang berlawanan dengan intuisi, serta membedakan fakta dan opini dengan menggunakan petunjuk yang tidak disampaikan secara langsung dalam isi maupun sumber informasi.

Kesenjangan tersebut menjadi penting ketika kemampuan membaca harus berhadapan dengan derasnya arus informasi digital.

Sebab, persoalan literasi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak halaman yang mampu dibaca seorang anak. Tantangan yang lebih besar adalah apakah setelah membaca mereka mampu memahami, mempertanyakan, memeriksa sumber, menghubungkan informasi, lalu menarik kesimpulan secara tepat.

OECD sendiri mencatat penurunan kemampuan membaca bukan semata-mata fenomena pascapandemi. Dalam banyak sistem pendidikan, penurunan sudah terlihat sebelum pandemi Covid-19, sehingga lembaga tersebut menilai terdapat persoalan yang lebih panjang dan mendasar dalam sistem pendidikan.

Di tengah perkembangan AI yang memungkinkan informasi diperoleh dalam hitungan detik, kemampuan untuk membaca secara teliti, memahami konteks dan membedakan informasi yang relevan justru menjadi semakin penting.

Dengan demikian, tantangan pendidikan ke depan bukan hanya membuat anak lebih rajin membaca. Yang tidak kalah penting adalah memastikan mereka tidak berhenti pada kemampuan membaca kata demi kata, tetapi mampu memahami makna, memeriksa kebenaran, dan berpikir kritis atas apa yang dibacanya. [Disarikan dari berbagai sumber]

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *