Akibat Kesombongan Dora

akibat kesombongan dora

Di Hutan Wanagama, tinggallah aneka macam binatang yang hidup dengan rukun dan damai. Mereka tidak membeda-bedakan satu sama lain, semuanya dapat bermain dengan akrab dan hidup brgotong royong, saling bantu-membantu satu sama lain.

Akan tetapi, ada satu binatang yang tidak bisa tinggal dan akrab dengan teman-temannya. Dia adalah Dora, si gajah, binatang yang terkenal sombong. Ia merasa paling besar, paling kuat dan paling pintar di antara teman-temannya. Kepada siapapun, Dora selalu mengatakan bahwa ia yang paling pantas menjadi raja hutan, sejak kematian Brewok, singa tua yang menjadi raja hutan sebelumnya.

“Siapa yang paling kuat di antara kita, itu yang menjadi raja!” teriaknya.

Binatang yang lain terdiam. Mereka takut. Apalagi binatang-binatang yang bertubuh kecil. Coki si serigala, tubuhnya hanya seukuran kaki gajah. Sekali injak tentu lumatlah dirinya. Belum lagi kalau diangkat pakai belalainya dan dilemparkan tinggi-tinggi ke udara. Wuah….

“Siapa, ha? Siapa yang paling kuat?” teriaknya sekali lagi.

Semuanya terdiam. Karena ketakutan, secara pelan-pelan terpaksa mereka menjawab.

“Anda… Anda tuan Dora, Anda yang paling kuat dan layak jadi raja!” mereka menyahut dengan terpaksa.

Dora merasa gembira dan memutar-mutar belalainya ke udara. Dora tak punya tandingan. Ia   menjadi sombong dan congkak. Untuk menunjukkkan kekuatannya, seringkali ia memainkan belalainya untuk mengangkat binatang-binatang yang lain tinggi-tinggi dan menceburkannya ke danau. Kalau tidak, kakinya yang besar menendang Lembon si kura-kura, atau puput si siput supaya berjalan lebih cepat, sampai binatang-binatang kecil itu terguling-guling.

Kalau sudah begitu, Dora akan tertawa terbahak-bahak, seperti mendapatkan lelucon yang seru.  Perlakuan Dora itu lama kelamaan membuat binatang-binatang lain menjadi jengkel, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Mereka tersiksa.

Terpikir oleh Coki, serigala untuk menggigit kaki Dora. Tapi jangan-jangan giginya  sendiri yang justru patah? Bayangkan, seberapa tebal dan kenyal kulit Dora gajah itu. Meskipun gigi-gigi Coki runcing, tapi tentu tak akan mampu menembus kulit Dora. Paling-paling hanya bikin geli saja.

Warga hutan akhirnya menjadi tertekan dan dirundung kecemasan.

Di tengah kekhawatiran warga hutan itu, suatu hari Panjul si kancil datang dan mengatakan punya gagasan untuk memberian pelajaran kepada Dora. Binatang yang lain menyambutnya dengan gembira dan penuh harap.

“Apa rencanamu?” tanya Coki.

“Tenang saja, kalau kalian mau tahu, besok pagi ikuti aku dan lihat dari kejauhan”ujar Panjul dengan mantab.

Esok harinya, tampaklah Panjul berjalan terpincang-pincang sembari merintih-rintih. Satu kaki kanannya diseret. Keringat tampak mengucur dari keningnya. Di belakangnya, Dora gajah berjalan dengan gagahnya tersenyum melihat Panjul yang berjalan terpincang-pincang. Sementara dari kejauhan binatang-binatang yang lain diam-diam ikut menyaksikan. Mereka penasaran, apa yang akan terjadi kemudian.

Dora mempercepat langkah untuk menyusul Panjul. Setelah dekat, tubuh kancil didorongnya denganbelalainya hinggga jatuh terguling-guling.

“Aduh! Kenapa kau seruduk aku, Dora? Apa salahku?” tanya panjul sambil merintih-rintih.

“Haha…. Sudah tubuhnya kecil, jalan terpincang-pincang. Ayo, keluarkan jurus lari cepatmu, Panjul. Kalau tak bisa lari cepat,  minggir sana! Aku mau lewat!” teriak Dora, kemudian kakinya yang besar itu menendang tubuh Panjul hingga terguling beberapa meter ke depan.

Panjul kancil mencoba bangkit dan berjalan lebih cepat, tapi tetap saja terpincang-pincang. Gajah tertawa terbahak-bahak, sambil terus mengejar Kancil. Tiba-tiba tanpa diduga-duga, Panjul melompat tiga meter ke depan dan berlari dengan sekuat tenaga.  Teman-temannya baru tahu, ternyata pincangnya kaki Panjul itu tadi hanya pura-pura saja. Melihat ia telah ditipu, Dora merasa marah dan berlari mengejar Panjul.

Tapi, baru lima meter kaki Dora melangkah, tiba-tiba krosaaaak…. Bum!! Ia tererospk ke dalam lobang sedalam dua meter bersama dengan ranting dan dedaunan. Rupanya Dora terperosok ke dalam lobang jebakan. Dora meronta-ronta minta tolong. Rupanya berat tubuhnya telah membuat kakinya terkilir saat terjatuh ke dalam lobang itu. Ia tak mampu berdiri.

“Selamat menikmati tempatmu yang baru, Dora, hehe…” ujar Panjul yang sudah berada di tepi lobang.

Binatang-binatang yang dari tadi menyaksikan dari jauh, berdatangan mendekat.  Sementara itu, Dora berupaya keras untuk naik ke atas, tapi sia-sia saja.

“Ayo keluarkan aku dari sini. Aku ini rajamu, mengerti?” ujar Dora sembari menghardik.

“Bagaimana mungkin kami yang kecil ini mampu menarik tubuh seberat Anda, tuanku, Raja? Mungkin hanya manusia yang dapat menolongmu. Tunggulah, sebentar lagi mereka tentu datang,” jawab Panjul, kemudian berbalik meninggalkan tempat itu, diikuti binatang-binatang yang lalin.

“Sstt…. Dari mana kau tahu ada lombang jebakan di sini?” tanya Coki.

“Hehehe… kemarin tak sengaja aku melihat manusia membuat lobang jebakan itu. Entah, mungkin untuk Kijang atau Harimau. Tapi tak apalah, buat Dora juga pas, kok,” jawab Panjul sembari tertawa.

Mereka kemudian mengelu-elukan Panjul si Kancil sebagai si pahlawan penyelamat. Saking gembiranya, mereka mengangkat tubuh Panjul tinggi-tinggi, kemudian menangkapnya lagi.  Sementara Dora masih meronta-ronta di dalam lobang sembari mengumpat-umpat.  [*]

Dongeng: Hamdani MW

 

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *